Kota Maya

di-beranda:

Oleh: Vallin Tsarina

Sudah satu jam lewat. Trans Jakarta masih penuh sesak. Masing-masing kita memburu nafas. Jendela berembun. Mungkin dari luar, bus ini seperti wahana sauna berjalan.

Sesampainya di tempat, sebuah warung sate dan soto Madura di pinggir jalan, telah riuh oleh tawa dan percakapan. Dua jam perjalanan untuk sebuah pertemuan dengan kawan-kawan. Ada yang terasa terlalu diusahakan, tapi texting tak mampu mengalahkan kesan dari sebuah pertemuan, bukan?

‘Kuningan macet banget, cuy.’
‘Thamrin ke Sudirman juga. Itu mobil-mobil plat item masuk jalur Trans Jakarta bikin macet aja!’
‘MRT, semoga cepet jadi. Amin.’
‘KRL mati lampu langsung bubar jalan tadi, gila. Chaos.’
‘DWP naik apa nih kita? Kenapa di ujung banget sih konser, ga di tengah kota aja.’
‘Mobil gue abis ditabrak Kopaja. Lo semua tau kan gue kalo nyetir paling hati-hati. Kadang, kitanya udah sehati-hati mungkin, pengendara yang lain yang mabok.’

Tiga ratus ribu hektar, sebuah calon kota baru di tepi timur. Para perencana perkotaan paling mahir dipekerjakan untuk membuahkan sebuah visi kota paling mutakhir. Studi kawasan telah dilakukan dari tingkat regional hingga ke tingkat kecamatan. Peta-peta telah berwarna pelangi. Tulang infrastuktur penyangga kota menggunakan sistem grid, demi kemudahan pergerakan, atau demi membingungkan penduduknya yang disleksia. Bisnis bergulir.

Kota ini riuh. Arsitektur menjadi penanda. Esplanade, Ordos, Soumaya Museum, London City Hall, Charminar.

Sebuah bangunan raksasa dengan koleksi pustaka yang tak akan habis kau baca, cocok untuk jenis penduduk yang sedikit kutu buku, Library of Alexandria. La Sagrada Familia, karya Gaudi yang entah kapan akan selesai tapi karenanyalah kau bisa merasakan keagungan Tuhan disana. Keimanan yang dinamis, tak pernah selesai dikaji. Mungkin Gaudi sedang bercakap dengan Tuhan di atas sana.

Gardens By The Bay, sebuah kebun raya yang paling kau suka. Pohon-pohon raksasa dengan teknologi penyaringan dan penampungan air. Dancing light setiap pukul delapan dan sepuluh malam. Sistem daur ulang energi paling mutakhir. Koleksi tanaman tropis di laboratorium rasksasa. Juga batu-batu kristal yang mengagumkan. Living museum yang sangat memadai untuk pendidikan warga kota, terutama untuk anakmu kelak.

Kawasan pusat bisnis paling meriah. Aqua Tower, seksi sekali, kau akan bangga berkantor disana. Dynamic Tower, siapa bilang tidak mungkin. Kau lihat, di atas sana, angin memang begitu kencang hingga mampu memutar torso bangunan. Arsitektur yang dinamis, canggih!

Mass Rapid Transit, monorail, guided bus, mobil pribadi, motor ataupun sepeda, sebutkan. Kau bisa nyaman bepergian dengan apapun di kota ini. Tak perlu khawatir macet. Sistem pengaturan lalu lintas telah begitu terprogram hingga aku pun tak tau bagaimana menjelaskannya padamu.

Kota ini menjelma cantik dan menarik bagi penduduknya. Infrastruktur industri didukung penuh oleh pemerintah. Energi terbarukan. Kehidupan bertetangga sakinah mawaddah warahmah, dan yang paling seru, saling bertukar kado. Apalagi yang bisa kau harapkan dari sebuah kota paling mutakhir seperti ini?

“Build the city of your dreams! A city of Megapolis!”

Kriiiiit. Kriiit. Kriiit.

Angin menyapa ayunan yang kesepian di taman. Bocah-bocah masa kini tidak lagi main di luar. Mereka telah renta pada sinar matahari dan rapuh pada rintik hujan. Dunia ada pada sekotak layar bergerak.

image

Lonely Swing

Kekecewaaan kita pada kota dan sistem-sistem yang bekerja di dalamnya telah mendorong kita mencari pelarian yang paling mungkin untuk dilakukan. Mimpi dan cita-cita mengenai kota yang lebih baik selalu ada, hidup dan dipelihara, meski terbentur dengan sangat brutal oleh waktu, dimensi, dan sumber daya.

Megapolis [1] adalah salah satu pelarian yang sedikit menyenangkan. Sebuah simulasi kota, tanpa terbentur realita. Waktu dipercepat, kita bisa melihat bagaimana sistem perlahan bekerja.

Disana, mimpi kita tentang kota mungkin menjadi nyata. Ya, sebuah ilusi yang nyata, sebuah kota maya. Hingga saat akhirnya kita kembali ke kota yang sebenarnya, kebingungan kita menjadi semakin nyata.
_

Manusia-manusia kota.
Kita tidak lagi peduli pada anggunnya helaian sirus dan indahnya derap sirokumulus. Kita telah acuh pada hangat matahari pagi dan belaian angin. Bukankah kita terlalu sibuk menyiasati macet?

Kita tidak lagi sempat –atau menyempatkan diri– sejenak menikmati matahari senja dan langit jingga. Kau tahu? Pukul setengah enam adalah jam-jam keemasan. Dan pergerakan matahari hilang di perbatasan berlangsung hanya kurang dari lima menit. Hari-hari ini, matahari lebih sering hilang di balik gedung-gedung pencakar langit.

Kita telah lupa, pada malam yang hiruk pikuk, bulan pernah menyabit purnama. Dan bintang-bintang masih di tempat yang sama.

Kita lupa menengok ke atas. Di tangan, sekotak layar bergerak sibuk meminta perhatian.

[1] Megapolis is a city building game that involves creating your own virtual city by
building residential houses, condos, and hotels, developing commercial and municipal infrastructure, engaging in industrial production, providing sufficient water and electricity, expanding your territory, and making your neighbors happy with gifts of building materials to assist them with construction projects. In the early stages, players focus on designing and building their city. In the more advanced stages, the social aspects of the game become more critical as players must obtain building materials from neighbors to complete quests and other construction projects.
Sumber: http://sqmegapolis.wikia.com/wiki/Megapolis_Wiki

Kota Maya

di-beranda:

Oleh: Vallin Tsarina

Sudah satu jam lewat. Trans Jakarta masih penuh sesak. Masing-masing kita memburu nafas. Jendela berembun. Mungkin dari luar, bus ini seperti wahana sauna berjalan.

Sesampainya di tempat, sebuah warung sate dan soto Madura di pinggir jalan, telah riuh oleh tawa dan percakapan. Dua jam perjalanan untuk sebuah pertemuan dengan kawan-kawan. Ada yang terasa terlalu diusahakan, tapi texting tak mampu mengalahkan kesan dari sebuah pertemuan, bukan?

‘Kuningan macet banget, cuy.’
‘Thamrin ke Sudirman juga. Itu mobil-mobil plat item masuk jalur Trans Jakarta bikin macet aja!’
‘MRT, semoga cepet jadi. Amin.’
‘KRL mati lampu langsung bubar jalan tadi, gila. Chaos.’
‘DWP naik apa nih kita? Kenapa di ujung banget sih konser, ga di tengah kota aja.’
‘Mobil gue abis ditabrak Kopaja. Lo semua tau kan gue kalo nyetir paling hati-hati. Kadang, kitanya udah sehati-hati mungkin, pengendara yang lain yang mabok.’

Tiga ratus ribu hektar, sebuah calon kota baru di tepi timur. Para perencana perkotaan paling mahir dipekerjakan untuk membuahkan sebuah visi kota paling mutakhir. Studi kawasan telah dilakukan dari tingkat regional hingga ke tingkat kecamatan. Peta-peta telah berwarna pelangi. Tulang infrastuktur penyangga kota menggunakan sistem grid, demi kemudahan pergerakan, atau demi membingungkan penduduknya yang disleksia. Bisnis bergulir.

Kota ini riuh. Arsitektur menjadi penanda. Esplanade, Ordos, Soumaya Museum, London City Hall, Charminar.

Sebuah bangunan raksasa dengan koleksi pustaka yang tak akan habis kau baca, cocok untuk jenis penduduk yang sedikit kutu buku, Library of Alexandria. La Sagrada Familia, karya Gaudi yang entah kapan akan selesai tapi karenanyalah kau bisa merasakan keagungan Tuhan disana. Keimanan yang dinamis, tak pernah selesai dikaji. Mungkin Gaudi sedang bercakap dengan Tuhan di atas sana.

Gardens By The Bay, sebuah kebun raya yang paling kau suka. Pohon-pohon raksasa dengan teknologi penyaringan dan penampungan air. Dancing light setiap pukul delapan dan sepuluh malam. Sistem daur ulang energi paling mutakhir. Koleksi tanaman tropis di laboratorium rasksasa. Juga batu-batu kristal yang mengagumkan. Living museum yang sangat memadai untuk pendidikan warga kota, terutama untuk anakmu kelak.

Kawasan pusat bisnis paling meriah. Aqua Tower, seksi sekali, kau akan bangga berkantor disana. Dynamic Tower, siapa bilang tidak mungkin. Kau lihat, di atas sana, angin memang begitu kencang hingga mampu memutar torso bangunan. Arsitektur yang dinamis, canggih!

Mass Rapid Transit, monorail, guided bus, mobil pribadi, motor ataupun sepeda, sebutkan. Kau bisa nyaman bepergian dengan apapun di kota ini. Tak perlu khawatir macet. Sistem pengaturan lalu lintas telah begitu terprogram hingga aku pun tak tau bagaimana menjelaskannya padamu.

Kota ini menjelma cantik dan menarik bagi penduduknya. Infrastruktur industri didukung penuh oleh pemerintah. Energi terbarukan. Kehidupan bertetangga sakinah mawaddah warahmah, dan yang paling seru, saling bertukar kado. Apalagi yang bisa kau harapkan dari sebuah kota paling mutakhir seperti ini?

“Build the city of your dreams! A city of Megapolis!”

Kriiiiit. Kriiit. Kriiit.

Angin menyapa ayunan yang kesepian di taman. Bocah-bocah masa kini tidak lagi main di luar. Mereka telah renta pada sinar matahari dan rapuh pada rintik hujan. Dunia ada pada sekotak layar bergerak.

image

Lonely Swing

Kekecewaaan kita pada kota dan sistem-sistem yang bekerja di dalamnya telah mendorong kita mencari pelarian yang paling mungkin untuk dilakukan. Mimpi dan cita-cita mengenai kota yang lebih baik selalu ada, hidup dan dipelihara, meski terbentur dengan sangat brutal oleh waktu, dimensi, dan sumber daya.

Megapolis [1] adalah salah satu pelarian yang sedikit menyenangkan. Sebuah simulasi kota, tanpa terbentur realita. Waktu dipercepat, kita bisa melihat bagaimana sistem perlahan bekerja.

Disana, mimpi kita tentang kota mungkin menjadi nyata. Ya, sebuah ilusi yang nyata, sebuah kota maya. Hingga saat akhirnya kita kembali ke kota yang sebenarnya, kebingungan kita menjadi semakin nyata.
_

Manusia-manusia kota.
Kita tidak lagi peduli pada anggunnya helaian sirus dan indahnya derap sirokumulus. Kita telah acuh pada hangat matahari pagi dan belaian angin. Bukankah kita terlalu sibuk menyiasati macet?

Kita tidak lagi sempat –atau menyempatkan diri– sejenak menikmati matahari senja dan langit jingga. Kau tahu? Pukul setengah enam adalah jam-jam keemasan. Dan pergerakan matahari hilang di perbatasan berlangsung hanya kurang dari lima menit. Hari-hari ini, matahari lebih sering hilang di balik gedung-gedung pencakar langit.

Kita telah lupa, pada malam yang hiruk pikuk, bulan pernah menyabit purnama. Dan bintang-bintang masih di tempat yang sama.

Kita lupa menengok ke atas. Di tangan, sekotak layar bergerak sibuk meminta perhatian.

[1] Megapolis is a city building game that involves creating your own virtual city by
building residential houses, condos, and hotels, developing commercial and municipal infrastructure, engaging in industrial production, providing sufficient water and electricity, expanding your territory, and making your neighbors happy with gifts of building materials to assist them with construction projects. In the early stages, players focus on designing and building their city. In the more advanced stages, the social aspects of the game become more critical as players must obtain building materials from neighbors to complete quests and other construction projects.
Sumber: http://sqmegapolis.wikia.com/wiki/Megapolis_Wiki

Kota Maya

di-beranda:

Oleh: Vallin Tsarina

Sudah satu jam lewat. Trans Jakarta masih penuh sesak. Masing-masing kita memburu nafas. Jendela berembun. Mungkin dari luar, bus ini seperti wahana sauna berjalan.

Sesampainya di tempat, sebuah warung sate dan soto Madura di pinggir jalan, telah riuh oleh tawa dan percakapan. Dua jam perjalanan untuk sebuah pertemuan dengan kawan-kawan. Ada yang terasa terlalu diusahakan, tapi texting tak mampu mengalahkan kesan dari sebuah pertemuan, bukan?

‘Kuningan macet banget, cuy.’
‘Thamrin ke Sudirman juga. Itu mobil-mobil plat item masuk jalur Trans Jakarta bikin macet aja!’
‘MRT, semoga cepet jadi. Amin.’
‘KRL mati lampu langsung bubar jalan tadi, gila. Chaos.’
‘DWP naik apa nih kita? Kenapa di ujung banget sih konser, ga di tengah kota aja.’
‘Mobil gue abis ditabrak Kopaja. Lo semua tau kan gue kalo nyetir paling hati-hati. Kadang, kitanya udah sehati-hati mungkin, pengendara yang lain yang mabok.’

Tiga ratus ribu hektar, sebuah calon kota baru di tepi timur. Para perencana perkotaan paling mahir dipekerjakan untuk membuahkan sebuah visi kota paling mutakhir. Studi kawasan telah dilakukan dari tingkat regional hingga ke tingkat kecamatan. Peta-peta telah berwarna pelangi. Tulang infrastuktur penyangga kota menggunakan sistem grid, demi kemudahan pergerakan, atau demi membingungkan penduduknya yang disleksia. Bisnis bergulir.

Kota ini riuh. Arsitektur menjadi penanda. Esplanade, Ordos, Soumaya Museum, London City Hall, Charminar.

Sebuah bangunan raksasa dengan koleksi pustaka yang tak akan habis kau baca, cocok untuk jenis penduduk yang sedikit kutu buku, Library of Alexandria. La Sagrada Familia, karya Gaudi yang entah kapan akan selesai tapi karenanyalah kau bisa merasakan keagungan Tuhan disana. Keimanan yang dinamis, tak pernah selesai dikaji. Mungkin Gaudi sedang bercakap dengan Tuhan di atas sana.

Gardens By The Bay, sebuah kebun raya yang paling kau suka. Pohon-pohon raksasa dengan teknologi penyaringan dan penampungan air. Dancing light setiap pukul delapan dan sepuluh malam. Sistem daur ulang energi paling mutakhir. Koleksi tanaman tropis di laboratorium rasksasa. Juga batu-batu kristal yang mengagumkan. Living museum yang sangat memadai untuk pendidikan warga kota, terutama untuk anakmu kelak.

Kawasan pusat bisnis paling meriah. Aqua Tower, seksi sekali, kau akan bangga berkantor disana. Dynamic Tower, siapa bilang tidak mungkin. Kau lihat, di atas sana, angin memang begitu kencang hingga mampu memutar torso bangunan. Arsitektur yang dinamis, canggih!

Mass Rapid Transit, monorail, guided bus, mobil pribadi, motor ataupun sepeda, sebutkan. Kau bisa nyaman bepergian dengan apapun di kota ini. Tak perlu khawatir macet. Sistem pengaturan lalu lintas telah begitu terprogram hingga aku pun tak tau bagaimana menjelaskannya padamu.

Kota ini menjelma cantik dan menarik bagi penduduknya. Infrastruktur industri didukung penuh oleh pemerintah. Energi terbarukan. Kehidup-an bertetangga sakinah mawaddah warahmah, dan yang paling seru, saling bertukar kado. Apalagi yang bisa kau harapkan dari sebuah kota paling mutakhir seperti ini?

“Build the city of your dreams! A city of Megapolis!”

Kriiiiit. Kriiit. Kriiit.

Angin menyapa ayunan yang kesepian di taman. Bocah-bocah masa kini tidak lagi main di luar. Mereka telah renta pada sinar matahari dan rapuh pada rintik hujan. Dunia ada pada sekotak layar bergerak.

image

Lonely Swing

_

Kekecewaaan kita pada kota dan sistem-sistem yang bekerja di dalamnya telah mendorong kita mencari pelarian yang paling mungkin untuk dilakukan. Mimpi dan cita-cita mengenai kota yang lebih baik selalu ada, hidup dan dipelihara, meski terbentur dengan sangat brutal oleh waktu, dimensi, dan sumber daya.

Megapolis [1] adalah salah satu pelarian yang sedikit menyenangkan. Sebuah simulasi kota, tanpa terbentur realita. Waktu dipercepat, kita bisa melihat bagaimana sistem perlahan bekerja.

Disana, mimpi kita tentang kota mungkin menjadi nyata. Ya, sebuah ilusi yang nyata, sebuah kota maya. Hingga saat akhirnya kita kembali ke kota yang sebenarnya, kebingungan kita menjadi semakin nyata.
_

Manusia-manusia kota.
Kita tidak lagi peduli pada anggunnya helaian sirus dan indahnya derap sirokumulus. Kita telah acuh pada hangat matahari pagi dan belaian angin. Bukankah kita terlalu sibuk menyiasati macet?

Kita tidak lagi sempat –atau menyempatkan diri– sejenak menikmati matahari senja dan langit jingga. Kau tahu? Pukul setengah enam adalah jam-jam keemasan. Dan pergerakan matahari hilang di perbatasan berlangsung hanya kurang dari lima menit. Hari-hari ini, matahari lebih sering hilang di balik gedung-gedung pencakar langit.

Kita telah lupa, pada malam yang hiruk pikuk, bulan pernah menyabit purnama. Dan bintang-bintang masih di tempat yang sama.

Kita lupa menengok ke atas. Di tangan, sekotak layar bergerak sibuk meminta perhatian.

[1] Megapolis is a city building game that involves creating your own virtual city by
building residential houses, condos, and hotels, developing commercial and municipal infrastructure, engaging in industrial production, providing sufficient water and electricity, expanding your territory, and making your neighbors happy with gifts of building materials to assist them with construction projects. In the early stages, players focus on designing and building their city. In the more advanced stages, the social aspects of the game become more critical as players must obtain building materials from neighbors to complete quests and other construction projects.
Sumber: http://sqmegapolis.wikia.com/wiki/Megapolis_Wiki

Attack
Isu pindah lokasi kantor; harga makanan naik, ongkos transport naik, gaji naik ga ya?
Wiwid:Kita harus 'strike' nih.
Boti:(bisik-bisik) 'Strike' apa sih?
TJ:Itu, serangan.
Vallin:Demo, kali.
Wiwid:Serangan mah 'attack'.
Boti:(nyanyi) Wing, Wings biruuuuu.
Boti memang sungguh random.
di-beranda:

Beranda #1
Perempuan bercerita tentang “pulang”
Selamat menikmati!

di-beranda:

Beranda #1

Perempuan bercerita tentang “pulang”

Selamat menikmati!

Matahari Terbit,  Argo Parahyangan

Matahari Terbit, Argo Parahyangan

kawun:

KEUKEN #4 : The Jolly Camaraderie - Aerial view

mlakumlakuyuk:

sama sama keluaran jepang, atas jalur uno-okayama jepang, bawah jalur tanah abang - serpong indonesia

mlakumlakuyuk:

keuken #4 the jolly camaraderie

mlakumlakuyuk:

senyum senyum kenyang di keukenbdg

Florence Nightingale, OM, RRC (/ˈflɒrəns ˈnaɪtɨŋɡeɪl/; 12 May 1820 – 13 August 1910) was a celebrated English social reformer and statistician, and the founder of modern nursing. She came to prominence while serving as a nurse during the Crimean War, where she tended to wounded soldiers. She was dubbed “The Lady with the Lamp” after her habit of making rounds at night.

"Nama-Nama Walikota (Bandung) dalam Nada": Iklan Layanan Masyarakat dari OSK (by LukasWeddingSinger)

Sebelum memilih yang baru, ada baiknya kita simak secuplik prestasi walikota terdahulu, sejak 1906 hingga 2013. Apa saja ya yang telah terjadi di Bandung? Yuk, mari ajak sebanyak-banyaknya kawan, kerabat, serta seluruh khalayak warga Bandung buat menyimak jurnal musikal kecil-kecilan dari sebuah orkes kecil berjuluk OSK ini untuk kemaslahatan kita bersama. Semoga berfaedah sekaligus membangkitkan sukacita dan semangat.

Cities in Focus | New York City (by EMBARQNetwork)

New York’s Mayor Michael Bloomberg and Department of Transportation are on a mission to make the Big Apple the “greatest, greenest big city in the world” by ramping up bicycle infrastructure across the city, introducing bus rapid transit to the Bronx, and pedestrianizing Times Square, among other bold transportation initiatives.