Cooking soon this September! more info: www.keukenbdg.com / @KeukenBdg

Cooking soon this September! more info: www.keukenbdg.com / @KeukenBdg

Ketawang Puspawarna : Karya yang Mengangkasa

oenank:

by Indra Pratama, pegiat Komunitas Aleut!

Kami mengirimkan pesan ini kepada seluruh alam semesta… Yang terdiri dari 200 milyar bintang di Galaksi Bima Sakti, beberapa -mungkin banyak- di antaranya, mungkin mempunyai planet yang didiami oleh peradaban yang bisa melakukan perjalanan ke luar angkasa. Bila salah satu diantaranya bisa bertemu dengan Voyager dan mampu mengerti isi dari rekaman ini, inilah pesan dari kami: Kami semua berusaha untuk mempertahankan keberadaan kami, sehingga kami bisa hidup bersama-sama dengan kalian. Kami harap suatu hari nanti, kami bisa menyelesaikan permasalahan yang kami hadapi, untuk ikut bergabung dalam sebuah komunitas Peradaban Galaksi. Piringan emas ini mewakili harapan, kebulatan tekad, serta niatan baik kami dalam alam semesta yang luas dan amat menakjubkan ini.

Kutipan pidato Jimmy Carter tersebut mungkin merupakan salahs atu pidato yang paling bersejarah dalam konteks harapan, imaji, dan keinginan liar manusia untuk bertemu, atau bahkan sekedar berinteraksi, dengan sahabat dari planet lain. Pidato tersebut masuk dalam Voyager Golden Records, rekaman phonograph yang dikirim ke angkasa luar bersama dengan wahana luar angkasa Voyager I yang diluncurkan pada thun 1977. Satelit Voyager adalah sebuah wahana luar angkasa tanpa awak yang diluncurkan amerika serikat tahun 1977 dengan beberapa tujuan yaitu :

1. meneliti luar angkasa lebih dalam dan luar angkasa yang tidak dapat dilihat oleh mata.

2. mencari keberadaan planet yang dapat dihuni

3. mencari planet yang berpenghuni.

Digerakkan dengan tenaga nuklir, Voyager diharapkan mampu mengirim data ke bumi sampai tahun 2025 ( 48 tahun setelah diluncurkan) sebelum pasokan listriknya habis.

Rekaman tersebut ditempatkan pada Voyager I dengan misi mustahil, sebagai pembawa pesan dari bumi kepada kemungkinan kehidupan di luar bumi. Dari maksud itu, Voyager Golden Records berperan sebagai profil audio yang dianggap mewakili bumi. Konten rekaman itu selain pidato dari Jimmy Carter, yang saat itu menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, berisi pula pidato dari Sekjen Persatuan Bangsa-Bangsa saat itu Kurt Waldheim, kalimat salam sapaan dalam 55 bahasa, suara-suara alam, seperti suara ombak, angin, petir, serta suara-suara binatang, termasuk kicauan burung dan suara dari ikan paus, serta 90 menit berisi musik-musik yang dianggap mewakili bumi, dari berbagai budaya.

Nusantara, yang memang memiliki tempat khusus dalam khasanah musik tradisional, menempatkan satu komposisi sebagai duta Indonesia di mata semesta, yaitu komposisi Ketawang Puspawarna Laras Slendro Pathet Manyura.  

Ketawang Puspawarna

Teks dan melodi dari Ketawang Puspawarna Laras Slendro Pathet Manyura merupakan hasil karya dari Pangeran Mangkunegara IV, yang berkuasa di Mangkunegaran era 1853-1881. Ketawang Puspawarna ini biasanya dibunyikan sebagai tanda kedatangan pangeran maupun untuk mengiringi tarian. Gendhing ini memiliki lirik mengenai berbagai jenis bunga yang melambangkan beragam suasana, rasa, atau nuansa.

Puspawarna merupakan salah satu komposisi gamelan dengan jenis kendhangan (ritme) Ketawang yang dapat dilagukan dalam laras slendro maupun pelog. Movement yang dipakai adalah movement Pathet Manyura, yang biasa dipakai pada bagian happy ending dari sebuah pertunjukkan wayang, mewakili mood puas dan kegemilangan.  Ketawang Puspawarna terdiri dari tujuh “cakepan” (bait) “gerongan” (lirik lagu). Biasanya, komposisi gending Jawa pada umumnya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk memainkannya. Sedangkan, Ketawang Puspawarna sangat berbeda karena hanya membutuhkan waktu lima menit untuk melantunkan setiap cakepan gerongan.

Versi dari komposisi ini yang mendapat kehormatan tersebut dibawakan oleh gamelan Keraton Pakualaman, yang diaransir ulang oleh pemimpinnya, yaitu Kanjeng Pangeran Haryo Notoprodjo, yang lebih dikenal dengan nama Tjokrowasito, atau Wasitodipuro, yang dikenal sebagai salah satu Empu Karawitan terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Proses seleksi untuk bisa masuk rekaman Voyager tentunya tidak sembarangan. NASA saat itu membentuk sebuah komite khusus untuk masalah seleksi rekaman-rekaman yang akan masuk. NASA menunjuk astronom Dr. Carl Sagan dari Universitas Cornell, sebagai pemimpin komite. Nama Carl Sagan dikenal luas di dunia non astronomi sebagai penulis novel Contact, yang kemudian dilayarlebarkan dengan bintang film Jodie Foster. Sagan dan timnya menyeleksi 115 suara alami yang dianggap mewakili suasana bumi: angin, ombak, kilat, burung, ikan paus, dan suara binatang lainnya. Ia juga menghimpun ucapan salam dari 55 bahasa yang dipergunakan makhluk bumi. Himpunan itu diawali bahasa Akkadian, yang digunakan bangsa Sumeria 6.000 tahun lalu, dan diakhiri dengan Wu, dialek modern Cina kini.

Tim Sagan juga menyeleksi bunyi-bunyian musik yang ada di bumi, musik berdurasi 90 menit yang meliputi klasik, etnis, dan modern. Yang mengusulkan agar Ketawang Puspawarna kepada Sagan adalah etnomusikolog dari Wesleyan University dan Universitas San Diego, Profesor Robert E. Brown. Brown memiliki rekaman live Ketawang Puspawarna yang dimainkan gamelan Pakualaman pimpinan Tjokrowasito pada tahun 1971 di Pakualaman.

Tjokrowasito

Tjokrowasito sendiri lahir pada 17 Maret 1909 di Kompleks Pakualaman. Ia  dikenal sebagai putra dari R.W. Padmowinangun, pemimpin gamelan keraton.

Lingkungan Pakualaman sebagai keraton yang menaruh perhatian sangat tinggi kepada bidang pendidikan (baik tradisional maupun barat) , sastra dan kesenian memiliki andil besar pada perkembangan Tjokrowasito. Tjokrowasito memiliki kebebasan untuk terlibat di beberapa kelompok gamelan terkenal sebelum akhirnya mengambil alih jabatan pemimpin gamelan keraton Pakualaman dari ayah angkatnya pada 1962.

Tjokrowasito sebelumnya pernah terlibat di MAVRO (Mataramsche Vereeniging Radio Omroep) mulai tahun 1934 sebagai music director untuk segmen gamelan,sampai kemudian bergabung di  Radio Hosokyoku sejak 1942 sampai 1945 selama pendudukan Jepang, and RRI Yogyakarta setelah kemerdekaan. Di masa terakhir inilah kiprahnya makin luas dan berkualitas. Ia dipercaya mengajar karawitan di beberapa negara sejak 1953, kemudian mengajar juga di Konservatori Tari Indonesia and Akademi Seni Tari Indonesia. Lalu mendirikan Pusat Olah Vokal Wasitodipuro.

Tjokrowasito juga merupakan salah satu penggagas awal bentuk kesenian Sendratari. Bersama koreografer Bagong Kussudiarjo di dekade 1960-an, ia pertama kali mementaskan Sendratari Ramayana di Prambanan, yang kini sudah menjadi salah satu trademark wisata kesenian Indonesia.

Tahun 1971 ia pindah ke Valencia, Amerika Serikat untuk mengajar di California Institute for the Arts. Ia juga menjadi dosen tidak tetap untuk beberapa kmpus ternama negeri Paman Sam, seperti University of California, Berkeley, dan San Jose University. Pada usia lanjut, tahun 1992 ia pulang ke Indonesia, dan menciptakan ruang kesenian yang aktif di kediamannya di Jogjakarta. Hingga wafat tahun 2007.

Selain komposisinya yang mengangkasa, ternyata Tjokrowasito juga menyusul mengangkasa. Lou Harrison, komponis terkemuka Amerika, mengusulkan agar nama Tjokrowasito menjadi nama salah satu bintang di angkasa. Harrison, memang dekat dengan Tjokrowasito. Mereka berkenalan tahun  1975 di Center of World Music di Berkeley. Harrison belajar pada Tjokrowasito dan menghasilkan beberapa karya yang bereksperimen dengan konsep, sistem gamelan, atau struktur tembang-tembang Jawa seperti Concerto in Slendro (1961), La Karo Sutro (1972), dan Main Bersama-sama (1978).

Pada 12 April 1983, sertifikat internasional Star Registry diberikan kepada Tjokrowasito. Letak persisnya di Andromeda Ra 23 h 35 mm 54 sd 43× 48×. Bintang itu dinamai Wasitodiningrat (nama saat Tjokrowasito dianugerahi gelar Kanjeng Raden Tumenggung oleh Pakualaman. Nama bintang baru itu kini tercatat di Library of Congress, Amerika Serikat.

Tahun 2009 Voyager I diketahui telah mencapai jarak 16,5 milyar kilometer dari matahari, sudah jauh menginggalkan sistem tata surya kita,  dan terus akan melanglangbuana dengan kecepatan rata-rata 61.000 kilometer/jam. Kita tidak pernah tahu apakah Voyager I beserta Ketawang Puspawarna akan ditemukan dan dikenang seluruh jagat, ataukah hanya akan menjadi sampah antariksa.

Tetapi NASA, Voyager, Golden Records, Tjokrowasito dan Ketawang Puspawarna setidaknya telah jauh melangkah dibanding kebanyakan kita. Kita bahkan tidak berani bermimpi, ketika tidak ada orang-orang Robert Brown, apakah Ketawang Puspawarna, serta banyak karya besar musik tradisional kita akan dikenang, ataukah hanya teronggok menjadi sampah.

Sumber :

MASGUN: Apa? Menertibkan Pejalan-Kaki?

kurniawangunadi:

Yahoo! News - Entah apa yang dimaksud dengan “menertibkan pejalan-kaki” sebagaimana diucapkan oleh pejabat polisi baru-baru ini di Jakarta? Bukankah justru kendaraan bermotor dan pemakai jalan lain yang harus ditertibkan untuk memberi tempat bagi pejalan kaki?

Undang-Undang No 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan jelas menekankan prioritas bagi pejalan-kaki:

Pasal 131
(1) Pejalan Kaki berhak atas ketersediaan fasilitas pendukung yang berupa trotoar, tempat penyeberangan, dan fasilitas lain.
(2) Pejalan kaki berhak mendapatkan prioritas pada saat menyeberang Jalan di tempat penyeberangan.
(3) Dalam hal belum tersedia fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pejalan kaki berhak menyeberang di tempat yang dipilih dengan memperhatikan keselamatan dirinya.

Di kebanyakan negara yang saya ketahui, kebijakan lalu-lintas yang sama memang diberlakukan: pejalan kaki didahulukan. Prinsipnya adalah bahwa “yang lebih lemah” harus didahulukan daripada yang lebih kuat, terutama yang bermesin.

Saya ingin usulkan agar Satpol PP dirombak menjadi ramah-warga dan ditugaskan memandu orang menjadi beradab di ruang khalayak, bukan hanya dalam berlalu-lintas, tetapi juga lain-lain, misalnya dalam hal buang sampah, antri, dan sebagainya.

 Tetapi pejalan kaki di banyak kota di Indonesia kini bahkan tidak bisa menyeberang di zebra-cross tanpa rasa takut. Seringkali tidak mungkin menunggu kendaraan bermotor akan mengalah berhenti untuk membiarkan pejalan-kaki menyeberang lebih dulu.

Sering pula, penyeberang diklakson, seolah dia yang salah karena “menyeberang sembarangan” (di zebra cross!). Sedangkan trotoar banyak tidak rata dan digunakan secara agresif oleh sepeda motordan lain-lain,  bahkan di jalan utama seperti Thamrin dan Sudirman di Jakarta.

Sayang Undang-Undang yang sama di atas juga mengandung kalimat bahwa pejalan-kaki wajib “menggunakan bagian jalan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki atau jalan yang paling tepi atau menyeberang di tempat yang telah ditentukan”. Tetapi tidak ada ayat yang berbunyi, “kendaraan bermotor wajib menggunakan jalur yang telah disediakan untuk mereka, dan tidak boleh menggunakan fasilitas pejalan kaki.”

Memang ada pejalan kaki yang menyeberang tidak pada tempatnya. Tetapi bukankah itu karena mereka tidak merasakan bedanya dengan menyeberang di tempat yang disediakan, misalnya, karena hak mereka dilanggar orang lain?

Pejalan kaki juga sering dinomorduakan pada banyak pintu masuk ke kompleks atau gedung-gedung besar. Perhatikan saja pintu masuk ke kompleks Polda Metro Jaya dari arah Sudirman dekat Semanggi. Juga di gedung-gedung sepanjang Jalan Thamrin-Sudirman.

Kelihatannya ada semacam feodalisme di sini. Pejalan kaki diasumsikan miskin, tidak punya hak seistimewa orang yang menggunakan kendaraan, yang diasumsikan berduit dan mampu belanja. Padahal ini hanya soal gaya hidup.

Dan, jangan lupa, sebenarnya siapakah pejalan kaki itu? Kita semua! Pada waktu dan tempat yang berbeda. Punya mobil atau tidak.

Marco Kusumawijaya

danoegraphy:


“BOROBUDUR: Jalan Pencerahan”

Danu Saputra | Borobudur - Magelang | 26 Juni 2011 | inidanoe@yahoo.co.id

danoegraphy:

“BOROBUDUR: Jalan Pencerahan”

Danu Saputra | Borobudur - Magelang | 26 Juni 2011 | inidanoe@yahoo.co.id